Setelah mengetahui siapa yang harus di belanya, tanpa peringatan, Lynx menarik tangan Huo Zhen dengan kekuatan luar biasa, lalu memutar tubuhnya. Dalam satu gerakan cepat, ia melayangkan pukulan ke arah perut pria itu.

Bugh!

Tubuh Huo Zhen terpental ke belakang, menabrak dinding dengan keras. Ia mengerang kesakitan, darah mengalir dari sudut bibirnya.

Para anak buahnya langsung bersiaga, tetapi Lynx hanya menatap mereka dengan dingin. "Kalian mau mencoba?"

Huo Zhen yang awalnya terkejut, mendadak tertawa. "Hanya ranah Forging Qi tingkat satu? Hahaha! Aku kira siapa! Jangan main-main denganku!" Ia melirik anak buahnya dan mengayunkan tangannya. "Habisi dia!"

Tanpa ragu, belasan anak buahnya langsung menyerang. Pedang dan tombak berkelebat di udara, mengarah ke Lynx dengan kecepatan tinggi.

Lynx menghela napas pendek. Karena merasa bahaya sudah lewat dengan kepergian beberapa orang dengan ranah tinggi, Lynx menjadi bersikap santai menghadapi mereka. Selain itu Lynx juga merasakan beberapa orang sedang menuju kearah rumah walikota. Dari tingkat kultivasi yang dirasakan, Lynx bisa mengetahui siapa orang tersebut.

Dengan santai, dia tetap berpura-pura sebagai kultivator lemah, bergerak menghindari serangan dengan gesit, seakan dirinya benar-benar berada di ranah Forging Qi tingkat satu.

Namun, ketika seorang prajurit mencoba menyerangnya dari belakang, ia dengan santai menunduk dan menyikut dada lawannya. Serangannya tidak terlalu keras, sehingga mereka yang terkena serangan hanya merasakan sakit namun tidak serius.

"Xiao Ling, Ayah! Apa yang terjadi? Di mana Ibu dan Kakak?!" teriak Li Wei, suaranya penuh kecemasan saat ia tiba bersama Jelita dan para kakak seperguruannya. Napasnya memburu, matanya berkilat panik saat melihat kediaman Walikota dalam keadaan porak-poranda. Diruangan itu juga yang seharusnya ada kakaknya Li Wei, tidak terlihat, begitu juga ibunya.

Walikota Li Cheng menatap putrinya dengan sorot mata penuh penderitaan. Suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam deru emosinya. "Li Wei… mereka membawa ibumu dan Li Mei."

Li Wei terbelalak. Dadanya bergemuruh oleh ketakutan dan kemarahan. Namun, sebelum ia bisa bereaksi lebih jauh, matanya menangkap sosok Lynx yang tengah menghadapi para pengepung bersenjata dan kakak seperguruannya yang datang mendekat.

Ling Mei, melihat Lynx kewalahan, tanpa sepatah kata, dia melangkah maju. Matanya dingin, tidak menunjukkan sedikit pun emosi. Dengan kultivasinya di ranah Foundation Emas Hitam, menghadapi sekelompok manusia biasa hanyalah urusan sepele.

Bugh!

Satu hantaman telapak tangannya menebarkan tekanan qi yang begitu menindas. Para musuh tidak sempat bereaksi sebelum tubuh mereka terpental ke belakang, memuntahkan darah sebelum jatuh tak sadarkan diri.

Tidak ada kemarahan di wajah Ling Mei, hanya keheningan yang mengerikan, dia menatap sekelompok orang biasa itu seolah mereka hanyalah dedaunan yang tertiup angin.

Huo Zhen, yang menyadari situasi sudah tak berpihak kepadanya, langsung berbalik untuk melarikan diri. Namun, sebelum ia bisa mengambil beberapa langkah—

Srekk!

Kilatan cahaya melesat, dan dalam sekejap, rekan-rekan Ling Mei telah mengepungnya dari segala arah.

"Dengan ranah sepertimu, kau pikir bisa kabur?" suara salah satu dari mereka terdengar meremehkan.

Ling Mei berdiri diam memperhatikan rekan-rekan seperguruannya yang sudah mengepung Huo Zhen. Dia tidak merasa khawatir karena dia tahu tingkatan kultivasi mereka rata-rata berada di ranah Master Foundation Perak Awal, lebih kuat dari pria yang ingin melarikan diri.

Menghadapi kepungan tersebut, Huo Zhen tidak ingin menyerah begitu saja, dengan ranah Master Foundation Perunggu Tingkat Akhir, dia mengeluarkan seluruh kekuatannya. Qi perunggu menyelimuti tubuhnya, menciptakan lapisan perlindungan yang tebal. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya, menciptakan sabetan qi berbentuk setengah lingkaran.

Boom!

Tombak salah satu kakak seperguruan Li Wei beradu dengan pedang itu, menciptakan percikan cahaya. Ledakan qi mengguncang tanah, membentuk celah kecil di bawah kaki mereka.

"Hmph, kau berpikir bisa melawan kami?" ujar salah satu kakak seperguruan dengan nada meremehkan.

Tanpa memberi kesempatan Huo Zhen bernapas, kakak seperguruan lainnya sudah melesat dari belakang, menggunakan teknik gerakan yang cepat dan tajam. Dengan satu tebasan, bilah pedangnya berkelebat, menyerang titik-titik vital lawan.

Huo Zhen menggertakkan giginya. Dia mencoba menghindar, tetapi perbedaan ranah membuat gerakannya sedikit lebih lambat.

Clang!

Pedangnya berhasil menangkis satu serangan, tetapi ia tidak bisa menghindari serangan lainnya—

Bugh!

Pukulan telak menghantam dadanya. Huo Zhen terhuyung, napasnya memburu, tetapi belum sempat ia pulih—

Srekk!

Kilatan cahaya perak berkelebat. Kakak seperguruan lainnya telah muncul di sampingnya, satu serangan cepat menghantam titik akupunturnya.

Tap!

Tubuh Huo Zhen langsung menegang sebelum akhirnya roboh. Wajahnya berubah pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia menyadari bahwa qi-nya telah tersegel sepenuhnya.

Ling Mei, yang sejak awal hanya berdiri di sisi, tetap tak menunjukkan emosi. Matanya dingin seperti es, seolah pertarungan itu hanya gangguan kecil yang tak layak diperhatikan.

Di sisi lain, Li Wei melangkah maju, matanya dipenuhi kecemasan. "Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka yang Ayah maksud?"

"Ayah tidak tahu siapa mereka. Tetapi mereka bersekutu dengan Huo Zhen untuk mencelakai keluarga kita," jawab walikota, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Ke mana mereka membawanya? Aku akan menyusul mereka!" kata Li Wei, cemas dan bertekad.

Walikota menggelengkan kepala, "Kita tidak bisa melawan mereka. Salah seorang dari mereka berada di ranah Grandmaster," ujarnya sambil berusaha berdiri. Dia  bertekad untuk mengejar istrinya seorang diri tanpa melibatkan putrinya.

"Grandmaster?" Li Wei menatap ayahnya dengan terkejut dan frustrasi."Siapa yang dapat menghadapinya?"

"Li Wei, meski mereka berada pada tingkatan itu, kami akan tetap membantumu menyelamatkan ibumu," kata Ling Mei memberi harapan.

Tiba-tiba, ingatan Li Wei terlintas pada Lynx, dan ia segera mendekat dengan cepat. "Xiao Ling, kumohon, selamatkanlah ibu dan kakakku."

Semua yang ada di tempat itu terkejut, kecuali Jelita, saat melihat Li Wei meminta bantuan kepada Lynx, yang berada di tahap Forging Qi tingkat satu, dengan wajah penuh harapan.

"Li Wei, seharusnya kamu meminta bantuan Ling Wei, bukan?" tanya salah satu kakak seperguruannya, bingung dengan pilihan Li Wei.

Li Wei tidak mengalihkan perhatian dari Lynx. Jelita juga mendekat, "Xiao Ling, bantulah," bujuknya dengan lembut.

Lynx tersenyum, baru saja mendeteksi lokasi keberadaan mereka. "Tenanglah, aku akan menyelamatkan mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka melukai keluargamu." kata Lynx, suaranya tegas namun menenangkan. Dia melangkah menuju keluar rumah, tidak ingin memperlihatkan kekuatannya secara langsung didepan mereka semua.

"Tunggu!"

Langkah Lynx terhenti seketika saat suara dingin Ling Mei bergema di ruangan.

"Apa maumu?" Lynx menoleh, nada suaranya mengandung kejengkelan. "Aku harus segera menyelamatkan ibu dan kakaknya."

"Dengan ranahmu yang hanya Forging Qi tingkat satu?" Mata Ling Mei yang tajam seperti bilah pedang menatapnya tanpa emosi. "Kamu hanya akan membunuh dirimu sendiri jika pergi ke sana."

"Benar, anak muda," Walikota Li Cheng menimpali, suaranya berat dan dipenuhi rasa sakit. Ia menekan dadanya yang masih terasa nyeri. "Aku berterima kasih atas niat baikmu, tapi aku tidak ingin kau mengantar nyawamu dengan percuma."

"Kau sudah mendengar kata walikota tadi." Salah satu kakak seperguruan Li Wei berbicara dengan nada serius. "Salah satu dari mereka adalah Grandmaster. Tidak ada satu pun di antara kita yang bisa mengalahkannya."

"Benar," rekan yang lain menimpali. "Sekilas, Grandmaster dan Master Foundation Emas Hitam mungkin terlihat tidak jauh berbeda, tapi kenyataannya mereka bagai langit dan bumi. Kesenjangan kekuatan itu tak terukur."

Namun, Lynx tetap berdiri tegak. Tatapan matanya membara, penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak peduli seberapa kuat mereka." Suaranya tegas, tak sedikit pun ragu. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun tersakiti di depan mataku."

Setelah berkata demikian, ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

"Xiao Ling…" bisik Li Wei, matanya bergetar. Rasa harap dan kekhawatiran berkecamuk dalam dadanya. Hanya Lynx yang menjadi harapannya saat ini. Di dalam benaknya, ia hanya bisa berharap kekuatan Lynx yang ia saksikan di Hutan Fengling bukanlah ilusi atau sekadar artefak.

